Sunday, 8 February 2009

tebas

Kau rebut ia dari tanganku
Dan dengan mudahnya engkau mendapatkan kain hitam
Yang engkau tarik dari bagian terdalam
Tersusun dari wol berwarna sama
Kemudian kau sandingkan dengan belati yang telah engkau asa
Menghujam urat lehernya yang perkasa
Lalu rintih tiada tara .:pisah tertebas
Menghancurkan hasrat yang telah lama aku papan


Corong itu menjadi saksi
Retina mengangkap cahaya matahari
Membantu agar jatuh tepat di bintik kuning .: mata jadi bukti
Sungguh banyak hati yang tersakiti
Oh,Tuhann yang Maha Pengasih..
Mengapa aku jadi begini..

14 comments:

  1. wah, si tinta bebek ini lagi perih? hmm, no kommen aja deh, biar waktu bersama kesenangan yang menghapusnya, menjadi debu dan awan untuk pergi keantah beranta, sekarang dan selamanya..

    ReplyDelete
  2. haha.
    bukanlah.
    cuma berusaha menyelami perasaan orang yang mengalami..hoho..

    ReplyDelete
  3. Kau tebas saja ia, mungkin itu nasib yg "apes",
    biarkan urat nadinya putus,
    mungkin dengan begitu kau akan merasa "puas",
    bebas terbang "lepas", seprti awan dan "kapas",

    Aku berjalan tertatih tatih,
    Selaput gendang telingaku b'getar karena lirih,
    kedua bola mataku jatuh pada mata pena yang lagi perih,
    pikirku, mungkin ini mata hati yang sedang merintih? ...hehehehe
    Tapi entahlah...
    Siapa yang tahu isi terdalam sebuah hati,
    Sepahit apapun, seperih bagaimanapun,
    deretan kata yg tersusun hanyalah sebuah "kata",
    ia tak lebih dari kumpulan huruf bermakna,
    yg mungkin hanya jadi "wakil" dari rasa...
    dan kata tidak punya kekuatan apa apa,
    kecuali mungkin mewakili sedikit dari rasa,
    atau mungkin sebagai "motivator" dari sebuah "asa",
    Sedahsyat apapun kata,
    tidak akan pernah sanggup secara "utuh" mewakili rasa...

    Mungkin aku salah...
    karena aku baru mengenal bahasa,
    baru belajar berkata-kata,
    Tapi tidak pernah diperkenalkan kepada rasa
    Mungkin rasa tak pernah harus dikenali,
    tak mesti sengaja diketahui..
    Sebab perjalanan masa-lah yg akan membawa kita kepada rasa,
    Seiring kita tumbuh menjadi remaja,
    menjadi dewasa bersama masa,
    lalu tanpa sengaja kita mengenalnya,
    mendekapnya...
    Hingga dengannya kita mampu menjadi manusia,
    makhluk yang punya asa,
    punya rasa,
    hingga tak lekang oleh masa,
    Dan pada akhirnya kita akan terekam oleh sejarah...

    Kita mungkin tidak pernah punya "sejarah",
    Tapi biarlah sejarah yang "memiliki kita",
    Kita mungkin hidup dgn "semangat" yg ada,
    Mungkin itulah yang membuat kita ada dalam "sejarah"...

    Sebuah perjuangan, selalu ada rasa "perih",
    Mungkin dengan itu dia dinamakan "perjuangan",
    "Perihnya" pengorbanan, mungkin itulah yang membuat kita selalu "tegar","tak gentar" kepada apa saja yg kita hadapi,
    Mungkin dengan rasa "perih", kita jadi lebih tahu arti sebuah "sedih"...

    Kita ini manusia biasa,
    tidak selamanya di atas,
    kadang kita harus di bawah,
    tidak selamanya senang,
    sewaktu waktu kita akan sedih,
    mungkin hati akan merintih,
    Sebab "garis kehidupanlah" yang membuat kita seperti ini,
    Seperti yang engkau alami,
    dan orang lain jalani...
    Agar kita bisa "bersyukur" tidak hanya pada "kenikmatan",
    tapi juga kita bisa "belajar" pada "keperihan"...

    Salam perih untuk pena yang merintih,
    Dari seorang teman yg meniti hari dgn senyuman mentari,
    Dengan sapaan lembutnya, saya jadi bangun pagi,
    lalu menyeruput kopi dengan rasa kasih,
    Aku berlari mengejar matahari,
    Berpacu bersama waktu,mencari setitik kebenaran hakikih...
    *senyum kecut ala sakit perut,becande.. hehehe*

    ReplyDelete
  4. yang sabar yakkk... hehehehhehehehe

    ReplyDelete
  5. @ SENOAJI

    hoho,makasih yakk..
    ciappppiii..

    ReplyDelete
  6. @ ANNAHDLAH

    Hmm,makasih banyak comment ta'..
    kerennya pengolahan katata'.
    ehhe,saya suka.

    mantappp !!

    ReplyDelete
  7. please... aku jangan di tebas ya..aku masih muda dan belum beres kuliah..ppleasee jangan ya tiffah...heu heu heu....

    ReplyDelete
  8. hahaha.

    tapi gimana dong ??
    ini parangnya udah siap ditangan aku..

    ReplyDelete
  9. @ ICHA

    makasih banyakkk..
    hhehe..

    orangnya ??
    keren juga kann ??
    hoho.

    ReplyDelete
  10. argh.. nggondok juga digituin..
    masih ada hari esok...

    ReplyDelete
  11. @ SURYADEN

    Iya,bener..
    masaih ada hari esok.
    Selama sungai belum kering,marilah terus mengejar cita-cita yang cerah,heheheh

    gak nyambung yah ???

    ReplyDelete
  12. @ KLIK DANA

    Wadduh ??
    Hmmm hmm..
    hhehe,paan tuh mass ??

    ReplyDelete

silahkan meninggalkan pesan :)