Aku benci merindu,
tapi kau tak mau tahu,
kau terus saja hantui aku,
menggodaku dalam setiap lirik lagu.
Aku benci merindu,
tapi melepasnya... aku tak mampu.
meski kamu di depanku,
bersama sepiring sushi
meski aku menatapmu
dalam pakaian yang rapi.
Kau ku rindu
namun kau bukan lagi dirimu
bersamamu adalah masa lalu
dan senyummu biar abadi di kanvasku
Saturday, 28 September 2013
Wednesday, 1 May 2013
Hapus Rindu
Rindu.
Kau berdiri di depan pintu
tak perlu kau ketuk pintu yang terbuka itu
masuklah tanpa permisi,
persis ketika kau pergi.
Apa yang menghalangimu?
Aku telah bosan bermain dengan tamu-tamu palsu.
Kau berdiri di depan pintu
tak perlu kau ketuk pintu yang terbuka itu
masuklah tanpa permisi,
persis ketika kau pergi.
Apa yang menghalangimu?
Aku telah bosan bermain dengan tamu-tamu palsu.
Wednesday, 9 January 2013
Sebuah Pelarian Tanpa Ujung
Status itu penting, katamu, ialah sebuah tanda keseriusan.
Keseriusan itu penting, katamu, ialah yang membuat kita berkomitmen, membuat kita setia.
Kesetiaan itu penting, kita setuju, tanpanya tak ada artinya semua yang telah kita lalui.
Tapi apa artinya setia pada kenangan? Apa artinya setia pada bayangan?
Aku setia pada kehadiranmu yang hanya ada dalam mimpiku. Mimpiku berakhir saat aku terbangun, hadirmu perlahan menguap bersama udara pagi, namun kesetiaanku masih ada.
Kesetiaanku ada bersama tiga sendok gula dalam teh hangat yang kuminum di pagi hari.
Kesetiaanku ada bersama kicauan burung yang semakin sedikit jumlahnya.
Kesetiaanku seperti air di selokan yang tersumbat, tak dapat mengalir namun tetap menggenang di satu sisi.
Kamu seperti sisa-sisa lilin yang ku padamkan semalam, tetesanmu membekas di satu sisi jendela kamarku.
Jika sisa-sisa keberadaanmu ku hapuskan, aku takut akan tersisa luka gores, seperti halnya goresan di jendelaku. Maka aku biarkan sisa-sisa keberadaanmu tetap disana, mengotori bingkai hati yang memandang langit tak sebiru dahulu.
Ku peluk bayanganmu, bersama warna-warna pelangi di kertas foto copy-an. Ku peluk bayanganmu, hanya bayanganmu, dan disisiku kini ada sosok lain, sosok lain dengan bayanganmu.
Ku peluk sosok itu, dengan bayanganmu.
Tak ingin ku tatap bayangannya, karena ku tahu itu adalah bayanganmu, maka hanya ku peluk.
Bukan hanya dia, setiap sosok akan memiliki bayanganmu, dan setiap sosok itu akan ku peluk.
Aku tak pernah menangis, aku terus tersenyum, karena ada bayanganmu,
Tak kurasakan kesendirian, mereka ada untukku, menemani malam tahun baruku, menyelami danau keruh untukku, melewati pematang sawah yang kumuh bersamaku. Aku tak kesepian.
Namun tetap saja ada bayanganmu.
Sejauh apapun aku berlari akan tetap ada bayanganmu, meski demikian aku tetap berlari, dalam sebuah pelarian tanpa ujung.
Keseriusan itu penting, katamu, ialah yang membuat kita berkomitmen, membuat kita setia.
Kesetiaan itu penting, kita setuju, tanpanya tak ada artinya semua yang telah kita lalui.
Tapi apa artinya setia pada kenangan? Apa artinya setia pada bayangan?
Aku setia pada kehadiranmu yang hanya ada dalam mimpiku. Mimpiku berakhir saat aku terbangun, hadirmu perlahan menguap bersama udara pagi, namun kesetiaanku masih ada.
Kesetiaanku ada bersama tiga sendok gula dalam teh hangat yang kuminum di pagi hari.
Kesetiaanku ada bersama kicauan burung yang semakin sedikit jumlahnya.
Kesetiaanku seperti air di selokan yang tersumbat, tak dapat mengalir namun tetap menggenang di satu sisi.
Kamu seperti sisa-sisa lilin yang ku padamkan semalam, tetesanmu membekas di satu sisi jendela kamarku.
Jika sisa-sisa keberadaanmu ku hapuskan, aku takut akan tersisa luka gores, seperti halnya goresan di jendelaku. Maka aku biarkan sisa-sisa keberadaanmu tetap disana, mengotori bingkai hati yang memandang langit tak sebiru dahulu.
Ku peluk bayanganmu, bersama warna-warna pelangi di kertas foto copy-an. Ku peluk bayanganmu, hanya bayanganmu, dan disisiku kini ada sosok lain, sosok lain dengan bayanganmu.
Ku peluk sosok itu, dengan bayanganmu.
Tak ingin ku tatap bayangannya, karena ku tahu itu adalah bayanganmu, maka hanya ku peluk.
Bukan hanya dia, setiap sosok akan memiliki bayanganmu, dan setiap sosok itu akan ku peluk.
Aku tak pernah menangis, aku terus tersenyum, karena ada bayanganmu,
Tak kurasakan kesendirian, mereka ada untukku, menemani malam tahun baruku, menyelami danau keruh untukku, melewati pematang sawah yang kumuh bersamaku. Aku tak kesepian.
Namun tetap saja ada bayanganmu.
Sejauh apapun aku berlari akan tetap ada bayanganmu, meski demikian aku tetap berlari, dalam sebuah pelarian tanpa ujung.
Friday, 2 November 2012
Sendiri Itu...
Sendiri itu seperti sejilid buku yang tersembunyi di dalam lemari perpustakaan
kau tak bisa menemukannya hingga semua buku yang lain terpinjam
Sendiri bagaikan sepotong puisi,
Maka kau cari buku-buku itu,
kau coret dan kau sobek,
namun sama sekali tidak membantumu,
yang kau temukan hanya carik marik kata yang tak berima.
Maka kaupun sendiri,
beribu pria datang menghampiri,
tak satupun mengusir sepi,
rasanya hanya suaramu yang ingin ku dengar saat ini.
kau tak bisa menemukannya hingga semua buku yang lain terpinjam
Sendiri bagaikan sepotong puisi,
Maka kau cari buku-buku itu,
kau coret dan kau sobek,
namun sama sekali tidak membantumu,
yang kau temukan hanya carik marik kata yang tak berima.
Maka kaupun sendiri,
beribu pria datang menghampiri,
tak satupun mengusir sepi,
rasanya hanya suaramu yang ingin ku dengar saat ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)